Karakter Rasio, Raga dan Rasa Pendidikan Sekolah Dasar

Logo
Oleh: Penulis: Fajrin Permata Sari (Mahasiswa Pascasarjana UGM)

RIAUHITS.COM - Salah satu tujuan negara yang tercantum dalam UUD 1945 alinea ke empat adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Selanjutnya pada UUD 1945 Pasal 31 Ayat (1) menyatakan bahwa setiap warga negara berhak untuk mendapat pendidikan. Kemudian, dikeluarkannya UU Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat (1) bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dari perrnyataan UUD 1945 dan UU Nomor 20 Tahun 2003, dapat dikatakan bahwa dengan adanya pendidikan maka suatu tujuan negara dapat tercapai dan pendidikan tidak hanya berfokus pada pengetahuan saja, tetapi juga dapat berfokus pada nilai kemoralan. 

Namun dalam mewujudkan hal tersebut, pendidikan di Indonesia masih terdapat beberapa masalah yang dihadapi. Pertama, hasil  survei dari  (PISA) yang dikeluarkan oleh  (OECD) pada 2015 menemukan, peningkatan kompetensi anak Indonesia dalam menulis menempati peringkat ke- 60 dari 72 negara. Kedua, kurangnya jam tidur anak sekolah. Padahal dengan cukupnya jam tidur anak dapat meningkatkan suasana hati, mencerdaskan otak, mengontrol berat badan, serta meningkatkan daya tahan tubuh (dr.Meva Nareza). Ketiga, hasil kajian dari KPPPA RI tahun 2018, sebanyak 56 persen anak Indonesia mengalami krisis kepercayaan diri dengan mayoritas anak perempuan.

Permasalahan yang terjadi di atas kontradiktif dengan konsep pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara, perintis Pendidikan Nasional Indonesia.  Ki Hajar Dewantara mengharapkan metode pendidikan mengintegrasikan pengembangan potensi-potensi pelajar secara seimbang dalam aspek intelektualitas, emosional, spiritualitas, sosialitas dan moralitas. Sehingga proses untuk mencapai keseimbangan pendidikan berkarakter seperti yang diharapkan Ki Hajar Dewantara masih memerlukan waktu supaya dapat terlaksana secara maksimal. 

Pembentukan karakter siswa supaya memiliki keseimbangan antara rasio, rasa, dan raga dapat dimulai dari jenjang pendidikan Sekolah Dasar. Hal tersebut dikarenakan anak yang telah berusia 7 tahun dianggap telah siap secara fisik maupun psikis (Psikolog Anak, Ratih Zuhaqqi). Hal ini senada dengan pernyataan Yusuf (2011) bahwa anak usia sekolah (6-12 tahun) telah dapat mereaksikan rangsang intelektual atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang menuntut kemampuan intelektual atau kemampuan kognitif (seperti: membaca, menulis, dan menghitung. Kemudian Miftahul (2010) menyatakan bahwa anak-anak diusia Sekolah Dasar juga menyukai hal-hal yang dapat membangkitkan imajinasi mereka. 

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mendukung terbentuknya keseimbangan rasio, raga, dan rasa dengan menggunakan Program Logic Model. Program Logic Model merupakan gambar visual logis yang dimulai dari input, proses, output, outcome serta impact yang diharapkan dapat mengatasi masalah yang terjadi dalam pendidikan. Dengan menggunakan Logic Model, dapat membentuk desain pendidikan yang diinginkan dan strategi yang digunakan berdasarkan asumsi yang diperoleh baik dari penelitian, best practice, maupun teori guna mendukung strategi yang telah ditentukan.  

Maka dari itu, penulis mengajukan 3 program untuk mewujudkan siswa lulusan Sekolah Dasar yang memiliki keseimbangan dalam rasio, raga, dan rasa. Pertama, untuk olah rasio, penulis mengusulkan adanya peningkatan kompetensi menulis. Alasan pemilihan kegiatan ini didukung dengan pernyataan dari Djuharie (2005) bahwa menulis merupakan suatu keterampilan yang dapat dibina dan dilatih. Kemudian Pranoto (2004) menyatakan bahwa menulis berarti menuangkan buah pikiran ke dalam bentuk tulisan atau menceritakan sesuatu kepada orang lain melalui tulisan. Kegiatan menulis ini telah diterapkan di Australia yang mendorong murid Sekolah Dasar untuk menulis. Berdasarkan riset, bahwa tradisi menulis di Indonesia jauh lebih rendah dari tradisi membaca. Kegiatan menulis ini dapat mendorong anak-anak untuk menggunakan imajinasi yang dituangkan melalui tulisan sehingga dapat meningkatkan minat siswa dalam menulis dan secara sendirinya dapat memilih dengan baik bahasa yang tepat dalam menulis. Tujuannya dari kegiatan menulis ini dengan harapan siswa memiliki kepercayaan diri dalam menghasilkan karya tulis.

Kedua, untuk olah raga, penulis mengusulkan anak sekolah mulai membiasakan diri untuk tidur tepat waktu. Pemilihan kegiatan dikarenakan secara teori bahwa tidur diperlukan untuk menjaga keseimbangan mental, emosional, dan kesehatan Menurut Hudgson (1991) dalam Potter dan Perry (2005). Supaya siswa memiliki jam tidur yang cukup maka Pemerintah California memundurkan jam masuk sekolah agar siswa memiliki waktu tidur lebih lama. Kemudian di China menetapkan bahwa siswa Sekolah Dasar minimal tidur 10 jam sehari, hal ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas tidur siswa Sekolah Dasar. Berdasarkan studi dari John Hopkins Bloomberg School of Public Health, menemukan bahwa anak yang kurang jam tidurnya dapat menyebabkan obesitas. Dengan membiasakan tidur tepat waktu siswa memiliki daya tahan tubuh yang baik serta dapat berkonsentrasi penuh selama belajar di sekolah. 

Ketiga, untuk olah raga, penulis mengusulkan melakukan kegiatan pengembangan diri melalui seni tari. Pemilihan kegiatan ini dikarenakan secara teori seni tari ditujukan untuk menumbuhkembangkan kesadaran sikap menghargai, toleran, demokratis, beradab, dan hidup rukun sesama (Hartono, 2012). Di sekolah Hongkong, siswa yang mempelajari seni tari dengan harapan siswa menjadi lebih percaya diri, lebih disiplin, sekaligus membangun moralitas dan perilaku yang lebih baik. Berdasarkan penelitian dari Laban dan Hampshire Dance (2007) anak-anak yang mengikuti kelas menari mengaku memiliki kepercayaan diri, motivasi, dan sikap yang lebih positif. Kemudian penelitian yang dilakukan di Universitas Oxford (2015) menemukan bahwa dengan menari dapat melepaskan hormon endorfin. Tujuan diadakannya kelas tari ini dengan harapan, siswa yang memilih seni tari dapat bekerja sama untuk menciptakan gerakan yang seirama serta dapat meningkatkan kepercayaan diri saat tampil dikhalayak ramai. 

 Semua program yang diusulkan dengan harapan siswa lulus Sekolah Dasar telah memiliki keseimbangan pada rasio, raga, dan rasa untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya. Sehingga keseimbangan pendidikan berkarakter telah terbentuk. Dengan adanya logic model diharapkan dapat memberikan manfaat dalam berjalannya program yang diusulkan melalui penggambaran alur program dan kegiatan, memudahkan dalam mendesain program, dapat meningkatkan efisiensi dengan meminimalisir terjadinya tumpang tindih program.

Selain logic model, program yang telah disusun dapat didukung dengan SMART and FIT. SMART and FIT merupakan salah satu cara untuk melihat kualitas model dengan menerapkan prinsip yang ada di dalam SMART and FIT. Komponen dari SMART terdiri specific (spesifik), measurable (terukur), action-oriented (berorientasi pada kegiatan), realistic (realistis) and time (waktu). Kemudian FIT komponennya terdiri atas frequency (frekuensi), intensity (intesitas) targeted (target). Penggunaan dari SMART and FIT diharapkan program yang disusun dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan.

Penyusunan program dilakukan untuk menyeimbangkan rasio, raga, dan rasa yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan khususnya pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar. Kedepannya program ini dapat membuat siswa lulusan Sekolah Dasar dapat lebih siap dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dengan penyusunan program ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi untuk pendidikan di Indonesia, sehingga pendidikan di Indonesia tidak hanya berfokus pada akademis siswa saja, tetapi juga fokus pada nilai kemoralan siswa. *

Penulis: Fajrin Permata Sari (Mahasiswa Pascasarjana UGM)



BACA JUGA

Comments (3)

  • Logo
    - Tahmina Akthr

    https://mail.riauhits.com/berita-karakter-rasio-raga-dan-rasa-pendidikan-sekolah-dasar.html Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Velit omnis animi et iure laudantium vitae, praesentium optio, sapiente distinctio illo?

    Reply

Leave a Comment



Masukkan 6 kode diatas)